Rupiah Tertekan, Nilai Tukar Sentuh Rp18.190 per USD, Ini Dampaknya bagi Ekonomi

  

Seseorang menukarkan rupiah dengan dollar Amerika Serikat (AS). (photo by radar malang)


MALANG- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih menunjukkan tren pelemahan sejak Mei 2026. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di berbagai kalangan karena depresiasi rupiah berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi nasional maupun kesejahteraan masyarakat. Bahkan, ketika nilai tukar sempat mencapai Rp18.190 per USD, kondisi tersebut tercatat sebagai salah satu titik terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Memasuki awal Juli 2026, rupiah masih berada dalam tekanan. Berdasarkan data dari berbagai sumber, kurs rupiah berada di kisaran Rp17.987 per USD, melemah dibandingkan akhir Juni yang masih berada di angka Rp17.778 per USD. Jika tren pelemahan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp18.000 per USD atau bahkan lebih rendah.

Pelemahan mata uang domestik bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan. Depresiasi rupiah memiliki dampak yang luas terhadap perekonomian nasional karena memengaruhi biaya impor, harga barang, investasi, hingga daya beli masyarakat. Berikut beberapa dampak yang berpotensi semakin dirasakan apabila nilai rupiah belum mampu kembali menguat.

Meningkatnya Harga Kebutuhan Pokok

Salah satu dampak yang paling cepat dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah menyebabkan biaya impor meningkat. Indonesia masih bergantung pada berbagai bahan baku, pangan, serta komoditas tertentu yang berasal dari luar negeri. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pembelian barang impor otomatis menjadi lebih mahal.

Tidak hanya bahan pangan impor, sektor industri juga ikut terdampak karena banyak perusahaan masih menggunakan bahan baku dari luar negeri. Peningkatan biaya produksi tersebut pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa. Dampaknya, masyarakat harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Daya Beli Masyarakat Semakin Menurun

Kenaikan harga berbagai kebutuhan secara langsung memengaruhi daya beli masyarakat. Ketika pendapatan relatif tetap sementara harga barang terus meningkat, masyarakat cenderung mengurangi konsumsi dan lebih selektif dalam melakukan pengeluaran. Barang-barang yang sebelumnya dianggap kebutuhan sekunder bahkan dapat ditunda pembeliannya demi memenuhi kebutuhan pokok.

Penurunan daya beli ini juga memberikan efek berantai terhadap pelaku usaha, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berkurangnya jumlah pembelian masyarakat menyebabkan omzet pedagang menurun. Jika kondisi berlangsung dalam jangka panjang, pelaku usaha berpotensi mengurangi produksi, menekan biaya operasional, bahkan melakukan pengurangan tenaga kerja.

Menurunnya Kepercayaan Investor Asing

Pelemahan rupiah juga berdampak pada sektor investasi. Ketidakstabilan nilai tukar meningkatkan risiko bagi investor asing yang menanamkan modal di Indonesia. Ketika keuntungan investasi dikonversi kembali ke dolar AS, depresiasi rupiah dapat mengurangi nilai keuntungan yang diperoleh sehingga investasi menjadi kurang menarik.

Akibatnya, sebagian investor memilih menarik dananya atau mengalihkan investasi ke negara yang dianggap memiliki kondisi ekonomi lebih stabil. Kondisi ini dapat menekan pasar modal Indonesia dan mengurangi aliran modal asing yang selama ini menjadi salah satu sumber pembiayaan pembangunan nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menyampaikan bahwa di tengah situasi ekonomi saat ini, kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia mengalami penurunan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas sektor keuangan.

Pemerintah Berupaya Menjaga Stabilitas Rupiah

Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, pemerintah bersama Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Bank Indonesia berupaya menstabilkan nilai tukar melalui kebijakan moneter, termasuk intervensi di pasar valuta asing serta menjaga likuiditas pasar keuangan.

Sementara itu, pemerintah mendorong peningkatan ekspor guna memperkuat penerimaan devisa negara sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor, khususnya bahan baku industri. Berbagai kebijakan juga diarahkan untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional agar lebih tahan terhadap tekanan ekonomi global.

Masyarakat berharap langkah-langkah yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia mampu mengembalikan kepercayaan pasar serta memperkuat nilai tukar rupiah. Stabilitas kurs tidak hanya penting bagi pelaku usaha dan investor, tetapi juga menjadi faktor utama dalam menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan inflasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.(red/lis)


Posting Komentar

0 Komentar