SURABAYA- Ratusan peternak ayam petelur asal Kabupaten Magetan menggelar aksi damai di depan Gedung DPRD Jawa Timur, Surabaya, pada Senin (29/6). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus tuntutan kepada pemerintah agar segera mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan keberlangsungan usaha peternakan rakyat yang kini berada di bawah tekanan berat akibat anjloknya harga telur dan terus meningkatnya biaya produksi.
Sebanyak 200 peternak berangkat dari Magetan menuju Surabaya untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada para wakil rakyat. Mereka berharap pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat segera menghadirkan kebijakan yang mampu menstabilkan harga telur sekaligus melindungi peternak skala kecil dari kerugian yang terus berlarut.
Perwakilan peternak ayam petelur Magetan, Muhammad Ali, mengatakan aksi damai tersebut merupakan bentuk perjuangan terakhir setelah berbagai keluhan dan aspirasi yang selama ini disampaikan belum membuahkan solusi yang nyata. Menurutnya, kondisi peternak rakyat saat ini sudah berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan.
"Ada 200 peternak yang berangkat dari Magetan. Kami berharap pemerintah benar-benar mendengar dan memberikan solusi yang berpihak kepada peternak rakyat," ujar Ali.
Ia menjelaskan, tekanan terhadap usaha peternakan telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Sejak akhir Maret 2026, harga telur ayam di tingkat peternak terus berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah yang ditetapkan sebesar Rp26.500 per kilogram. Kondisi tersebut menyebabkan pendapatan peternak menurun drastis, bahkan banyak di antaranya harus menjual hasil produksi dengan harga yang tidak mampu menutup biaya operasional.
Di sisi lain, biaya produksi justru mengalami peningkatan yang signifikan. Harga pakan konsentrat, yang menjadi komponen terbesar dalam biaya pemeliharaan ayam petelur, terus mengalami kenaikan hampir setiap pekan. Akibatnya, margin keuntungan peternak semakin menipis, bahkan tidak sedikit yang mengaku mengalami kerugian setiap kali panen telur.
Ali juga menyoroti semakin ketatnya persaingan usaha dengan berkembangnya perusahaan peternakan ayam petelur berskala besar yang telah terintegrasi dari sektor produksi hingga pemasaran. Menurutnya, kondisi tersebut membuat peternak rakyat semakin sulit bersaing karena memiliki keterbatasan modal dan akses pasar.
"Ironisnya, di saat pendapatan hancur, harga pakan konsentrat dari pabrikan justru mengalami kenaikan harga yang konsisten hampir setiap pekan," ungkapnya.
Melalui aksi damai tersebut, para peternak mendesak pemerintah segera melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan harga telur, mengendalikan kenaikan harga pakan ternak, serta menyusun regulasi yang memberikan perlindungan bagi peternak rakyat agar mampu bertahan di tengah persaingan industri yang semakin kompetitif. Mereka berharap aspirasi tersebut segera ditindaklanjuti sehingga usaha peternakan ayam petelur rakyat tetap dapat berjalan dan menjadi penopang ketahanan pangan nasional. (red/l.is)
0 Komentar