Jakarta – Harga minyak mentah dunia melonjak drastis hingga menembus angka US$ 100 per barel pada perdagangan Senin (9/3/2026). Lonjakan ini terjadi di tengah gangguan pasokan dari Timur Tengah yang membuat jalur pengiriman minyak strategis, Selat Hormuz, tertutup sementara.
Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 18,98 persen atau US$17,25 menjadi US$108,15 per barel. Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan global melonjak 16,19 persen atau US$15,01 ke posisi US$107,70 per barel.
Kenaikan ini memperpanjang tren reli harga minyak yang sudah melonjak sekitar 35 persen dalam sepekan terakhir, rekor kenaikan mingguan terbesar sejak pasar futures dibuka pada 1983. Terakhir kali harga minyak menembus US$100 per barel terjadi saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Pemangkasan produksi oleh sejumlah negara produsen di Timur Tengah menjadi faktor utama lonjakan harga. Penutupan Selat Hormuz, jalur ekspor penting energi dunia, membuat banyak kapal tanker enggan melintas karena risiko keamanan.
Kuwait, produsen minyak terbesar kelima di OPEC, mengumumkan pengurangan produksi dan output kilang sebagai antisipasi ancaman keamanan kapal. Di Irak, produksi tiga ladang minyak utama anjlok sekitar 70 persen menjadi 1,3 juta barel per hari, jauh dari kapasitas normal 4,3 juta barel.
Uni Emirat Arab (UEA) juga membatasi produksi minyak lepas pantai untuk menyesuaikan kapasitas penyimpanan, sementara operasi produksi darat tetap berjalan normal.
Pemerintah AS optimistis jalur Selat Hormuz akan kembali dibuka dalam waktu dekat. Menteri Energi AS, Chris Wright, menyampaikan kepada awak media bahwa arus kapal diperkirakan akan normal kembali dalam beberapa minggu setelah kemampuan Iran untuk mengancam kapal berkurang.
“Arus kapal akan kembali normal dalam beberapa minggu, meski saat ini masih jauh dari kondisi normal,” kata Wright.
Dengan kondisi ini, pasar energi global berada di titik ketidakpastian tinggi, memengaruhi berbagai sektor ekonomi dunia.
(Red.EI)
0 Komentar