Siswa sekolah rakyat saat akan melakukan cek kesehatan (photo by radar kediri)


KEDIRI, Kabarreskrim.co.id – Jumlah peserta didik di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi I Kabupaten Kediri masih berpotensi bertambah meski Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) telah dimulai. Hal ini karena Sekolah Rakyat menerapkan sistem multi entry–multi exit, sehingga peserta didik dapat bergabung kapan saja sesuai hasil proses penjangkauan yang dilakukan pemerintah.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Kediri, Fadeli, mengatakan jumlah siswa yang mengikuti pendidikan saat ini belum bersifat final. Hingga akhir Juli 2026, Dinas Sosial bersama para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) masih aktif melakukan pendataan dan penjangkauan terhadap anak-anak dari keluarga miskin yang menjadi sasaran program.

"Data peserta didik masih dinamis dan bisa terus berubah. Sistem di Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah reguler karena menggunakan mekanisme multi entry dan multi exit," ujarnya.

Fadeli menjelaskan, Sekolah Rakyat tidak menerapkan sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) sebagaimana sekolah pada umumnya. Calon siswa tidak perlu datang mendaftarkan diri ke sekolah.

Sebaliknya, petugas dari Dinas Sosial bersama pendamping PKH mendatangi langsung keluarga yang masuk kategori desil 1 berdasarkan data pemerintah. Setelah dilakukan verifikasi kondisi sosial ekonomi, anak yang memenuhi kriteria akan ditawari mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat tanpa melalui proses seleksi akademik.

Dengan mekanisme tersebut, peserta didik masih dapat bergabung meskipun kegiatan MPLS telah berlangsung.

Selain proses penjangkauan siswa baru, pihak sekolah juga memberikan perhatian besar terhadap proses adaptasi anak-anak yang tinggal di asrama. Menurut Fadeli, rasa rindu kepada orang tua atau homesick merupakan kondisi yang sangat wajar, terutama bagi siswa jenjang sekolah dasar yang baru pertama kali hidup terpisah dari keluarganya.

Untuk membantu proses penyesuaian tersebut, sekolah menerapkan sistem pendampingan secara intensif. Seluruh aktivitas siswa telah dijadwalkan sehingga mereka tetap memiliki kegiatan yang positif sepanjang hari dan selalu didampingi oleh guru maupun tenaga kependidikan.

Tidak hanya itu, setiap guru juga diwajibkan meluangkan waktu sedikitnya 30 menit setiap hari untuk membangun komunikasi dan kedekatan secara personal dengan para siswa.

"Kami ingin guru tidak hanya mengajar di kelas. Guru juga harus menjadi tempat anak-anak berbagi cerita sehingga mereka merasa nyaman, aman, dan tetap mendapatkan perhatian meski jauh dari orang tua," jelas Fadeli.

Di sisi lain, seluruh peserta didik juga telah mengikuti Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan pada Kamis (16/7). Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan kondisi kesehatan siswa sebelum menjalani pendidikan berasrama.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr. Ika Tjandra Kusuma, mengatakan hasil pemeriksaan kesehatan saat ini masih dalam proses rekapitulasi sebelum diunggah ke sistem milik Kementerian Kesehatan.

"Data hasil pemeriksaan masih kami olah dan akan diinput terlebih dahulu ke aplikasi Kementerian Kesehatan. Namun secara umum pelaksanaan pemeriksaan kebugaran maupun Cek Kesehatan Gratis berjalan lancar tanpa kendala yang berarti," terangnya.

Dengan sistem pembelajaran yang fleksibel dan berbasis asrama, Sekolah Rakyat diharapkan mampu memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan mereka secara optimal.(red/lis)