BPS Catat Pengangguran Indonesia Turun Jadi 4,68 Persen, Namun Pekerja Informal Masih Dominan

IIlustrasi pencari kerja. (dok. JawaPos.com)


Kediri
– Angka pengangguran di Indonesia menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2026 berada di angka 4,68 persen, turun 0,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain penurunan angka pengangguran, jumlah penduduk yang bekerja juga mengalami peningkatan. BPS mencatat sebanyak 147,67 juta penduduk Indonesia telah masuk dalam kelompok bekerja pada Februari 2026.

Meski demikian, turunnya angka pengangguran tidak otomatis membuat masyarakat lebih mudah memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan harapan. Sebab, dalam kategori penduduk bekerja juga termasuk mereka yang memiliki jam kerja terbatas maupun pekerja dengan pendapatan yang belum stabil.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan ketenagakerjaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja, tetapi juga kualitas pekerjaan yang tersedia.

Pekerja Informal Masih Mendominasi

BPS mencatat mayoritas penduduk bekerja masih berada di sektor informal. Sebanyak 87,74 juta orang atau sekitar 59,42 persen dari total penduduk bekerja menjalankan aktivitas ekonomi melalui usaha sendiri, menjadi pekerja lepas, membantu usaha keluarga, maupun pekerjaan yang belum memiliki sistem kerja tetap.

Sementara itu, pekerja yang berada di sektor formal tercatat sebanyak 59,93 juta orang atau sekitar 40,58 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih menggantungkan penghasilan dari pekerjaan mandiri atau sektor informal yang memiliki tingkat kepastian pendapatan lebih rendah dibandingkan pekerjaan formal.

Selain persoalan status pekerjaan, masalah lain terlihat dari jumlah pekerja yang belum mendapatkan jam kerja optimal.

BPS mencatat tingkat setengah pengangguran mencapai 7,27 persen. Kelompok ini merupakan masyarakat yang sudah bekerja, tetapi memiliki jam kerja kurang dari 35 jam per minggu dan masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan tambahan.

Sementara itu, jumlah pekerja paruh waktu tercatat mencapai 25,97 persen.

Pendapatan Pekerja Masih Jadi Perhatian

Selain aspek kesempatan kerja, tingkat pendapatan juga menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kondisi ketenagakerjaan.

Pada Februari 2026, rata-rata upah buruh nasional tercatat sebesar Rp3,29 juta per bulan. Namun angka tersebut merupakan rata-rata nasional sehingga kondisi pendapatan pekerja dapat berbeda-beda tergantung wilayah, jenis pekerjaan, tingkat keahlian, serta sektor usaha.

Dengan kondisi tersebut, penurunan angka pengangguran tidak sepenuhnya menggambarkan bahwa seluruh masyarakat telah memperoleh pekerjaan yang ideal.

Masih terdapat tantangan lain seperti tingginya jumlah pekerja informal, keterbatasan jam kerja, pendapatan yang belum mencukupi, serta kesenjangan antara keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha.

Data BPS dan pengalaman masyarakat di lapangan pun menunjukkan hal yang saling berkaitan. Meskipun semakin banyak penduduk yang bekerja, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan kualitas lapangan kerja agar masyarakat tidak hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga memperoleh pekerjaan yang lebih stabil dan sesuai dengan kemampuan.(red/lis)

Posting Komentar

0 Komentar