KEDIRI – Hari pertama pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 menjadi perhatian Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati dan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Keduanya turun langsung ke sekolah untuk menyapa siswa baru sekaligus memastikan proses MPLS berlangsung aman, ramah, dan bebas dari praktik perundungan maupun pungutan.
Wali Kota Vinanda Prameswati menghadiri kegiatan open house Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 2 Kediri. Dalam kesempatan tersebut, ia berdialog dengan 192 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA yang mulai menempati asrama.
Vinanda menjelaskan kesiapan fasilitas Sekolah Rakyat terus dimatangkan. Bangunan untuk jenjang SMP dan SMA telah siap digunakan, sedangkan gedung SD masih dalam tahap penyelesaian sehingga sementara waktu kegiatan akan memanfaatkan fasilitas yang telah tersedia.
"Saat ini bangunan SMP dan SMA sudah siap. Untuk SD sementara akan menggunakan gedung SMP maupun SMA," ujarnya.
Ia juga mengajak para orang tua untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran perdana di Sekolah Rakyat. Kepada para siswa, Vinanda berpesan agar saling menghormati, menjaga rasa aman, dan membangun kebersamaan selama tinggal di lingkungan asrama.
"Jangan ada yang menjadi pelaku bullying, mengejek teman, atau melakukan tindakan yang menyakiti sesama. Harus saling membantu dan saling menjaga," pesannya.
Kepala Dinas Sosial Kediri, Imam Muttakin, mengatakan Sekolah Rakyat saat ini dihuni 222 siswa. Selain 192 siswa asal Kediri, terdapat tambahan 30 siswa jenjang SMP yang merupakan titipan dari Sekolah Rakyat Mojokerto.
Menurut Imam, asrama untuk siswa SMP dan SMA telah siap digunakan, sedangkan siswa SD sementara masih bergabung di kompleks yang sama. Pemisahan tempat tinggal dilakukan berdasarkan jenis kelamin.
Ia menambahkan seluruh pembangunan ditargetkan rampung pada akhir Juli. Meski demikian, seluruh peserta didik sudah mulai memasuki asrama dan mengikuti masa adaptasi.
Untuk mendukung operasional awal, pemerintah juga menyiapkan guru tamu dari Dinas Pendidikan dan Cabang Dinas Pendidikan. Sementara tenaga kependidikan diperkuat oleh personel Taruna Siaga Bencana (Tagana), Lembaga Kesejahteraan Keluarga (LKK), serta pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) sesuai kebutuhan dari Kementerian Sosial.
Kepala Sekolah Rakyat Kediri, Nur Zam'ah, menambahkan kegiatan MPLS resmi dimulai pada 14 Juli dan berlangsung selama dua pekan. Salah satu agenda awal adalah pemeriksaan kesehatan menyeluruh bekerja sama dengan Dinas Kesehatan.
Seluruh siswa akan menjalani pemeriksaan kesehatan gigi, lambung, kondisi fisik, hingga kesehatan psikologis sebagai bagian dari persiapan mengikuti pembelajaran di lingkungan berasrama.
Pada masa awal operasional, Sekolah Rakyat Kediri juga mendapat pendampingan dari Sekolah Rakyat Kabupaten Mojokerto. Sejumlah guru dan wali asuh dari sekolah tersebut akan mendampingi proses pembelajaran selama 12 hari.
Sementara itu, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengunjungi SMPN 2 Ngasem untuk memantau pelaksanaan MPLS. Dalam kunjungannya, ia memastikan tidak ada siswa yang kesulitan memperoleh seragam sekolah karena keterbatasan ekonomi.
Dhito menegaskan pemerintah daerah siap membantu penyediaan seragam secara gratis bagi siswa yang membutuhkan.
"Saya tidak ingin ada siswa yang kesulitan mendapatkan seragam sekolah. Jika memang membutuhkan, silakan mengajukan dan akan kami bantu secara gratis," tegasnya.
Selain persoalan seragam, Dhito mengingatkan pihak sekolah agar tidak melakukan pungutan yang membebani orang tua siswa. Ia juga meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan praktik pungutan yang tidak semestinya.
Dalam dialog bersama siswa baru, Dhito turut mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman dengan menolak segala bentuk perundungan.
Menurutnya, bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui ucapan atau tindakan verbal yang menyakiti teman.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, menegaskan seluruh sekolah melaksanakan MPLS tahun ini dengan konsep ramah anak. Selama kegiatan berlangsung, sekolah dilarang melakukan perpeloncoan, bullying, maupun menarik iuran kepada peserta didik.
Ia menyebut pelaksanaan hari pertama MPLS berjalan lancar. Sebagian besar siswa baru datang ke sekolah didampingi orang tua, sedangkan rangkaian pengenalan lingkungan sekolah dijadwalkan berlangsung selama lima hari.(red/lis)
0 Komentar