Seniman Bersatu Lewat “Art for Freedom”, Suarakan Penolakan Penggusuran

pameran 'Art For Freedom' di Balai Pemuda, Surabaya

 Surabaya - Galeri Merah Putih (GMP) menggelar pameran bertajuk "Art for Freedom" yang menjadi ruang ekspresi sekaligus suara perlawanan publik. Pameran yang berlangsung pada 1-8 April 2026 ini menampilkan 34 lukisan yang mengundang respons masyarakat, termasuk terkait penolakan terhadap rencana penggusuran galeri yang berada di Balai Pemuda Surabaya.

Ketua Yayasan Sanggar Merah Putih M Anis menjelaskan, sebagian koleksi dari pameran "Art for Freedom" merupakan hasil kegiatan melukis bersama dengan objek Balai Pemuda yang kemudian diangkat kembali dalam pameran kali ini.


Tema yang diusung memunculkan nuansa kritik terhadap polemik yang terjadi. Anis menyebut hal itu merupakan bentuk kebebasan berekspresi yang wajar dari para seniman.

"Seniman itu menyampaikan aspirasi lewat karya. Mereka tidak turun ke jalan, tapi melalui lukisan. Itu hal yang wajar," jelasnya.


Pameran tersebut melibatkan pelukis dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, hingga Madura. Menurutnya,Galeri Merah Putih menjadi ruang penting bagi seniman daerah untuk tampil di kota besar.


"GMP ini galeri terkecil se-Indonesia, tapi jadwalnya terpadat se-Indonesia. Ada kebanggaan tersendiri bagi mereka bisa pameran di Surabaya. Ini juga menjadi bagian dari portofolio mereka," imbuh Anis.

Salah satu pengunjung, Yoman (74), menyayangkan sikap Pemerintah Kota Surabaya atas keputusan yang dilayangkan kepada tiga galeri, yakni Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Galeri Merah Putih (GMP), dan Bengkel Muda Surabaya (BMS).


"Saya sudah baca beritanya. Wah, saya kecewa juga. Saya sudah tidak bisa datang gini-gini lagi," ujarnya menyayangkan.


Yoman mengaku berasal dari Ambon dan telah merantau di Surabaya sejak tahun 2000. Selama itu, ia rutin menikmati berbagai kegiatan kesenian yang digelar di Balai Pemuda.


"Untuk saya yang terbaik ini (Balai Pemuda)," kata Yoman.


Ia berharap, penggusuran galeri-galeri di Balai Pemuda tidak terjadi. Menurutnya, kehidupan seni dan komunitas membuat Kota Surabaya terasa lebih hidup. Tak hanya sebagai penikmat seni, Yoman juga aktif melukis. Ia kerap menjadikan Balai Pemuda sebagai sumber inspirasi dalam berkarya.


"Saya lebih suka berdiam diri di depan lukisan. Saya banyak mendapat pembelajaran dari sana," pungkasnya.


(red/hep)

Posting Komentar

0 Komentar